NEWS
Dalam Sekejab, Dua Pasang Gunungan Ludes
Ribuan warga Surakarta dan sekitarnya, berebut 2 pasang gunungan Sekaten di halaman Masjid Agung Keraton Surakarta Hadiningrat, Selasa (14/1) siang. Acara tahunan tersebut menandai puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang digelar Keraton Surakarta, atau dalam tradisi keraton Jawa disebut Sekaten. Puluhan ribu warga menyemut di depan Kraton, Alun-alun Utara hingga di depan Masjid Agung sejak pukul 08.00 WIB. Tak hanya warga Solo, mereka juga datang dari berbagai daerah, seperti, Klaten, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Lampung, Purwodadi, Magetan, Madiun dan Ngawi. Wakil Pengageng Sasana Wilapa, Kanjeng Pangeran (KP) Winarnokusuma mengatakan ada dua macam gunungan yang dikeluarkan keraton. Yakni gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan). Gunungan jaler terdiri dari sayur hasil bumi, seperti kacang panjang, terong, wortel, cabai, sawo dan tomat. "Kalau gunungan estri, berupa rengginang. Yaitu nasi yang dikeringkan dan aneka masakan lauk pauk. Kedua gunungan tersebut pertanda syukur dari raja kepada rakyatnya," ujar terangnya. Prosesi gunungan diawali dari keraton Kasunanan. Dua pasang gunungan diarak oleh ratusan abdi dalem, dengan rute Kori Kamandungan-Sitihinggil-Pagelaran-Alun-alun Utara hingga halaman masjid. Iring-iringan dikawal oleh prajurit dan barisan marching band keraton. Sesampai di masjid, gunungan didoakan oleh beberapa ulama keraton, dipimpin oleh KRT Pujo Dipuro. Usai didoakan ribuan warga merangsek ke halaman masjid, untuk berebut isi gunungan. Seperti perayaan Sekaten sebelumnya, dua pasang gunungan itu ludes diperebutkan ribuan orang yang sudah menanti sejak pagi di Masjid Agung Surakarta. sumber : surakarta.go.id
Pameran Arkeologi
Wakil  Walikota Surakarta, Achmad Purnomo secara resmi membuka Pameran Arkeologi 2013 bertajuk " Bengawan Solo Riwayatmu Dulu " di Graha Solo Raya, Rabu (25/9/2013), dalam sambutan Walikota Surakarta yang dibacakannya Pemerintah Surakarta menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada Pusat Arkeologi Nasional yang telah menggelar pameran benda purbakala dikota solo, semoga dengan diadakan pameran ini mampu memberikan pesan-pesan  moral kepada masyarakat sehingga tergugah kesadarannya akan pentingnya menjaga kelestarian benda sejarah bangsa Indonesia, Sangat disayangkan apabila benda-benda sejarah sampai diperjualbelikan, oleh karena itu keberadaan museum harus mendapat perhatian yang serius dari semua pihak, semua masyarakat wajib menjaga demi kelestarian benda-benda sejarah bangsa, bahkan keberadaan museum jika dikelola secara profesional akan banyak memberi manfaat tidak hanya sebatas untuk edukasi tetapi juga untuk wisata/rekreasi bagi wisatawan dalam atau luar negeri. Wakil Walikota berharap agar pameran arkeolog ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para mahasiswa maupun pelajar yang di Solo.
 
Sementara itu Kepala Arkeologi Nasional Bambang Sulistiyanto mengatakan penemuan benda purbakala harus disebarkan kepada masyarakat supaya bisa diketahui dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, karena tidak ada gunanya para arkelog melakukan penggalian benda-benda bersejarah, tetapi hasilnya hanya disimpan di rak-rak gudang penyimpanan barang berharga saja. Pameran arkeolog ini merupakan hasil penelitian dari daerah sekitar Sungai Bengawan Solo yang sudah terkenal di dunia dan di dalamnya ada peradaban manusia yang belum banyak diketahui, Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo memiliki sejarah yang sangat penting, sebab temuan arkeologis pada aliran sungai purba ini, memang sangat padat. Bahkan sejumlah temuan, diantaranya fosil manusia Trinil di Ngawi ataupun kubah Sangiran. mampu menguak migrasi manusia pertama (homo erectus) ke Nusantara, serta migrasi gelombang kedua (homo sapiens).
 
Dari temuan-temuan arkeologis di kawasan DAS Bengawan Solo, menurutnya, dapat dirunut evolusi serta migrasi alam dan manusia. Di bagian hulu sungai terpanjang di Jawa ini, bisa diperoleh gambaran jejak kehidupan periode Paleolitik, preneolitik hingga neolitik. Demikian pula temuan sisa-sisa kebudayaan zaman Hindu-Budha hingga Islam, menurutnya, kian mengukuhkan Bengawan Solo memiliki sejarah panjang peradaban manusia sejak purba hingga kini.
 
Temuan arkeologis yang dipamerkan banyak dan beragam. Antara lain, Manusia, binatang, serta artefak purba lain yang pernah hidup di kawasan lembah Bengawan Solo dan kini telah memfosil .Sejumlah temuan artefak zaman purba, diantaranya mandibula homo erectus, homo sapiens, gading gajah, kerangka kepala, kapak genggam, displai foto situs purbakala dan sebagainya itu, di usung ke sejumlah kota di sepanjang aliran Bengawan Solo, di mulai dari Solo hingga Gresik.
 
Pameran arkeologi di Solo ini akan berlangsung dari Rabu hingga Minggu (25 - 29/9/2013) mendatang, dan dijadwalkan akan berlanjut ke Ngawi, Bojonegoro, dan beberapa kota lain hingga Gresik. Bisa jadi, dengan adanya pameran arkeologi ini, bisa membuka kesadaran baru bagi masyarakat, betapa sejak purba Bengawan Solo menjadi hunian manusia dengan segala aktivitasnya, namun sekarang kondisi sungai yang melintasi dua propinsi itu, mengalami pendangkalan dan berair keruh. (bs)
Kirab Babadan Kademangan Jebres, Mengingatkan Kembali Masyarakat Sejarah Kawasan Jebres
Ratusan warga di Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Solo memeriahkan Kirab Budaya Babadan Kademangan Jebres, Rabu (25/9/2013).Menurut keterangan Lurah Jebres Ari Dwiatmoko  Acara kirab yang baru pertama kali ini diselenggarakan untuk mengingatkan legenda kelurahan Jebres kepada masyarakat  juga dalam rangka memperingati terbentuknya Kademangan Jebres  yaitu  mengenalkan kepada masyarakat  sosok Ki Demang Joyo Mustapa  yang merupakan salah seorang panglima telik sandi (mata-mata) pada jaman perang Diponegoro di bawah pemerintahan Pakubuwono (PB) VI. karena dari beliaulah, sejarah kawasan Jebres ini lahir dan terkenal di Kota Surakarta
Sementara itu ketua pelaksana kegiatan sekaligus yang mempelopori penelusuran sejarah Kademangan Jebres tersebut Joko Prasetyo mengungkapkan meski kirab tersebut baru kali pertama digelar, ternyata sarat nilai lantaran didasari penggalian budaya yang cukup mendalam. Kirab tersebut digelar dalam rangka napak tilas sejarah Kademangan Jebres yang seakan pupus ditelan masa dan nyaris dilupakan warganya.“Jadi ada sejarahnya, bukan sekadar kirab, ” ungkap Joko Prasetyo, sebagai bukti otentik yang masih ada diantaranya sejumlah artefak benda pusaka antara lain pekak (kendali) kuda Sampar Angin, dua bilah yaitu Keris Kyai Katongan, Keris Kyai Sangkan dan sebilah Tombak Kyai Bekel Jati (Jatayu) yang semuanya merupakan peninggalan Ki Joyo Mustoko atau yang di kenal dengan Ki Demang Jebres.
Kirab yang diawali dari utara UNS ini dimulai tepat pukul 16.30 WIB dengan tujuan akhir di Pedaringan. Barisan pasukan pengibar bendera mengawali rombongan kirab, disusul dengan Artefak Pusaka, Reog, Hasil Bumi, Wayang Raksasa dan berbagai laskar lainnya, selain itu rombongan kirab yang tergabung kedalam 36 laskar (kelompok) tersebut memamerkan potensi daerah yang tumbuh di kawasan Jebres. Tak hanya tradisi dan budaya semata, namun juga menggabungkannya dengan sejumlah kesenian yang tumbuh dikawasan tersebut, seperti Reog, Barongsai, Wayang dan Kelompok Kesenian Musik Jawa..
Setibanya di makam Ki Demang Jebres, panitia menggelar acara kembulbujono atau makan nasi dengan wadah encek (anyaman bambu). Malam harinya juga digelar ketoprak dengan Lakon Babad Kademangan Jebres, sebagai visualisasi sejarah Jebres. Pihaknya juga telah mencetak buku Sejarah Kademangan Jebres sebagai bukti otentik penelusuran sejarah Jebres.(bs)