NEWS
Kontingen 8 Kota Ramaikan Vastenburg Carnival
SOLO - Ribuan penonton yang menyemut memadati Benteng Vastenburg mendapat hiburan pada Vastenburg Carnival, semalam. Delapan kontingen dari delapan kota menampilkan atraksi di panggung dengan mengenakan kostum karnival, kecuali dari Yogyakarta dan Bengkulu, yang lebih memilih mengenakan kostum tradisional daerah masing-masing. Pergelaran yang kali pertama diadakan itu juga dimeriahkan oleh hadirnya artis penyanyi multitalenta Endah Laras dan pelepasan seribu lampion yang diawali oleh Wali Kota Surakarta, Wakil Wali Kota Surakarta, serta anggota Muspida maupun Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Surakarta. Meski baru kali pertama digelar di salah satu venueyang kerap digunakan untuk pertunjukan budaya, animo masyarakat cukup tinggi untuk melihat bentuk kostum karnival yang diberi tema Bamboo, Its My Costume itu. Penonton tidak hanya melihat di dalam benteng, namun juga di sepanjang Jalan Jendral Sudirman mulai dari halaman Balai Kota menuju benteng. Antusias Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo sangat antusias membuka bentuk kirab sekaligus pertunjukan seni di benteng peninggalan kolonial Belanda itu. Selain berharap di tahun mendatang Vastenburg Carnival bisa lebih berkembang dan mendatangkan kontingen dari kota-kota lain dalam jumlah besar, Rudy juga disibukkan dengan menyalakan api untuk menerbangkan lampion itu ke udara. Beberapa kali dia melepas balon didampingi panitia dari Rumah Karnival Indonesia maupun Red Batik. Kontingen Kota Solo mengawali pertunjukan di panggung berkolaborasi dengan penyanyi Endah Laras. Namun sebelum model karnival naik panggung, sejumlah anak panti asuhan dan YPAC juga di atas panggung membacakan sejumlah puisi. Selesai menari diiringi lagu nostalgia Belanda, “Bunga Anggrek”, “Ayun-ayun”, dan “Nasi Goreng”, seluruh peserta berjalan menuju tembok benteng dan ikut menyaksikan atraksi dari kelompok lain. Di belakang Solo, hadir kelompok dari Kota Bengkulu. Mereka tidak mengenakan kostum karnaval, namun menampilkan sajian atraksi musik tradisional. Disusul oleh kontingen Magelang, Pekalongan, Boyolali, Yogyakarta maupun Banyumas. (sri, H73-85) #suaramerdeka.com
Mahasiswa Akparta Memperoleh Beasiswa dari Dirjen Dikti
Sebanyak 11 mahasiswa Akademi Pariwisata Widya Nusantara Surakarta mendapatkan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan Bantuan Biaya Pendidikan (BBP PPA) dari Dirjen Dikti. Dengan adanya beasiswa ini diharapkan mahasiswa/I bisa belajar lebih rajin dan tekun sehingga prestasi akademik bisa diraih. Dengan mengucapkan syukur kepada Allah bahwa setiap tahun Akademi Pariwisata Widya Nusantara Surakarta selalu mendapat alokasi beasiswa dari Dirjen Dikti. Bagi mahasiswa yang belum beruntung memperoleh beasiswa tahun ini, diharapkan mahasiswa/I bisa lebih rajin dalam kuliah sehingga bisa memperoleh nilai yang bagus sehingga tahun depan bisa diajukan untuk bisa meraih beasiswa. Insert gambar : suasana pengajuan berkas beasiswa di kopertis 6
Wayang Kulit
Wayang di Jawa berarti bayangan. Adalah salah satu cara untuk merefleksikan banyak sifat manusia. Kesenian wayang sudah ada sebelum penyebaran agama Hindu di Indonesia. Hari ini, wayang masih sering dipertontonkan sebagai perayaan religius masyarakat Jawa. Wayang kulit sudah dipertontonkan lebih dari 5 abad di Indonesia, eksistensi ini tidak bisa lepas dari masuknya agama Islam ke pulau Jawa. Salah satu Wali Songo menciptakan wayang dengan mengadopsi dari wayang beber yang lebih dulu dikenal dari jaman Hindu – Budha di Jawa. Pengenalan wayang ini sangat kuat sehingga mengakar di budaya masyarakat Jawa. Wayang juga digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam di Jawa pada waktu itu. Pertunjukan wayang seringkali digelar semalam suntuk oleh Dalang, satu-satunya orang yang memainkan wayang dan menguasai bermacam karakter wayang. Semua karakter dalam wayang dibuat dari kulit sapi, dan adalah keahlian dalang untuk merubah suara menjadi suara wanita atau pria dengan intonasi yang berbeda-beda pula, menyesuaikan karakter wayang, menyanyi bahkan bercanda yang akan membuat wayang semakin enak dilihat. Selama dimainkan, karakter wayang akan terlihat sebagai bayangan dalam layar putih yang terletak di depan Dalang. Wayang akan selalu menginspirasi budaya Indonesia dari waktu ke waktu. #Surakarta.go.id
Pelatihan Peningkatan Program Kreatifitas Mahasiswa Tahun 2014
Dalam rangka membekali para mahasiswa dan dosen pembimbing pada Perguruan Tinggi di Surakarta dan sekitarnya agar dapat menumbuhkembangkan budaya dan kualitas mahasiswa dalam berkreativitas, serta bertujuan untuk mensosialisasikan program dari Direktorat Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti), pada hari Rabu tanggal 16 April 2014 bertempat di Universitas Islam Batik Surakarta (UNIBA) telah diselenggarakan Pelatihan Peningkatan Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2014. Pelatihan diikuti oleh sejumlah perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri maupun swasta di Surakarta dan sekitarnya. Tidak ketinggalan Akademi Pariwisata Widya Nusantara Surakarta (AKPARTA SURAKARTA) juga mengikutkan 2 mahasiswa dan 1 dosen pembimbing untuk mengikuti pelatihan tersebut. Dengan menghadirkan 2 narasumber yang sangat berpengalaman dalam bidang tersebut, diantaranya adalah Prof. Jamasri dari UGM dan Dr. Darmawan Setijanto dari Dirjen Dikti acara pelatihan berlangsung dengan baik serta dapat membuka wawasan mahasiswa untuk bisa mengembangkan kreativitasnya di perguruan tinggi masing-masing. Pelatihan Peningkatan Program Kreativitas Mahasiswa ini sangat bermanfaat sekali bagi mahasiswa dan dosen pembinbing, sehingga setelah selesai mengikuti pelatihan ini kedepan bisa menyusun proposal yang berkualitas untuk diajukan ke kopertis wilayah 6.
Dalam Sekejab, Dua Pasang Gunungan Ludes
Ribuan warga Surakarta dan sekitarnya, berebut 2 pasang gunungan Sekaten di halaman Masjid Agung Keraton Surakarta Hadiningrat, Selasa (14/1) siang. Acara tahunan tersebut menandai puncak peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang digelar Keraton Surakarta, atau dalam tradisi keraton Jawa disebut Sekaten. Puluhan ribu warga menyemut di depan Kraton, Alun-alun Utara hingga di depan Masjid Agung sejak pukul 08.00 WIB. Tak hanya warga Solo, mereka juga datang dari berbagai daerah, seperti, Klaten, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Lampung, Purwodadi, Magetan, Madiun dan Ngawi. Wakil Pengageng Sasana Wilapa, Kanjeng Pangeran (KP) Winarnokusuma mengatakan ada dua macam gunungan yang dikeluarkan keraton. Yakni gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan). Gunungan jaler terdiri dari sayur hasil bumi, seperti kacang panjang, terong, wortel, cabai, sawo dan tomat. "Kalau gunungan estri, berupa rengginang. Yaitu nasi yang dikeringkan dan aneka masakan lauk pauk. Kedua gunungan tersebut pertanda syukur dari raja kepada rakyatnya," ujar terangnya. Prosesi gunungan diawali dari keraton Kasunanan. Dua pasang gunungan diarak oleh ratusan abdi dalem, dengan rute Kori Kamandungan-Sitihinggil-Pagelaran-Alun-alun Utara hingga halaman masjid. Iring-iringan dikawal oleh prajurit dan barisan marching band keraton. Sesampai di masjid, gunungan didoakan oleh beberapa ulama keraton, dipimpin oleh KRT Pujo Dipuro. Usai didoakan ribuan warga merangsek ke halaman masjid, untuk berebut isi gunungan. Seperti perayaan Sekaten sebelumnya, dua pasang gunungan itu ludes diperebutkan ribuan orang yang sudah menanti sejak pagi di Masjid Agung Surakarta. sumber : surakarta.go.id